wisma novel Headline Animator

wisma novel

Kamis, 22 Juli 2010

Onrust

YASMIN baru sampai pagi ini, menumpang perahu nelayan dari Muara Kamal. Ia memperhatikan sekeliling pulau. Tempat ini masih termasuk ke dalam Jakarta sebagai salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Tapi keberadaan bangunan-bangunan tua disini membuatnya sungguh berbeda dengan dunia metropolitan di seberang sana.

Harusnya ia tak sendiri sekarang. Damar, fotografer yang ditugaskan mendampinginya, seharusnya juga datang. Tapi hari ini Damar punya jadwal lain. Dalam hati, Yasmin mengutuk penugasannya ke pulau ini. Juga mengutuk dirinya sendiri karena tanpa pikir panjang dalam rapat kemarin ia menyarankan Onrust sebagai laporan wisata di edisi berikutnya. Setelah cukup banyak pertimbangan, akhirnya rapat setuju mengangkat pulau yang kaya akan peninggalan-peninggalan dari jaman Belanda tersebut. Namun dengan syarat, Yasmin-lah yang akan turun ke lapangan sebab hanya ia lulusan arkeologi di majalah mereka. Maka di sinilah ia sekarang. Terpaksa diingatkan kembali pada kenangannya di pulau ini. Di sinilah pertama kalinya ia dan Fajar mengetahui perasaan masing-masing dan mulai berpacaran. Di pulau ini jugalah liburan terakhir mereka, sebelum kemudian Fajar pergi untuk selama-lamanya…

*

Berita buruk itu diterima satu minggu setelah wisuda. Sebelumnya, Fajar sudah sering mengeluh mengalami sakit kepala, keluhan yang selalu dianggapnya remeh. Fajar akhirnya bersedia memeriksakan diri ke dokter setelah dipaksa. Mereka menerima hasil yang mengejutkan: kanker otak stadium III dengan kesempatan hidup kurang dari satu tahun. Keduanya ambruk mendengar kabar tersebut. Keluarga mereka juga tak kalah syok sebab beberapa bulan lagi pernikahan akan dilangsungkan. Hal ini membuat keduanya sering bertengkar hebat.

“Kenapa kamu tetap ngotot menikah sih?! Kamu bisa cepat jadi janda!!!” kata Fajar emosi.

“ Kamu ingat Nala dan Damayanti, Jar?” tanya Yasmin tenang. Keduanya terdiam, membiarkan pikiran mereka melayang ke masa dua tahun yang lalu…

“…Nala seorang pangeran yang diramalkan usianya tinggal 90 hari. Karena itu Damayanti disarankan tidak menikahinya,” kata Bu Ratna, dosen mata kuliah Repertoar Sastra India Klasik. “Namun Damayanti berkeras, bahkan mengikuti Nala yang akhirnya  meninggal ke akhirat walau ia sendiri masih hidup. Yama, sang dewa kematian, merasa risih dengan keberadaan manusia hidup di wilayahnya. Ia terpaksa berjanji mengabulkan tiga permintaan Damayanti agar wanita itu bersedia pergi. Salah satunya, Damayanti memohon diberi banyak anak. Yama setuju. Lalu dengan cerdik ia melancarkan jebakan dengan berkeras hanya menginginkan anak yang berasal dari benih Nala. Untuk mengabulkannya, Yama terpaksa menghidupkan Nala kembali.” Bu Ratna mengakhiri cerita sambil memandangi satu per satu mahasiswa di kelasnya, termasuk Yasmin dan Fajar.

Fajar akhirnya berhasil diyakinkan. Namun berbeda dengan kisah happy ending itu, pada akhirnya Yasmin menjanda. Status yang kemungkinan besar akan ia sandang selamanya sebab ia tak menghiraukan pria-pria lain yang mencoba masuk dalam hidupnya, termasuk Damar. Yasmin bukannya tidak tahu Damar mencoba mendekatinya, tapi ia bersikeras menutup diri. Bersikeras tetap sendiri walau sekarang usianya sudah 28 tahun. Bersikeras hanya Fajar seorang yang ada dalam hatinya, walau tanpa sadar sebenarnya ia mencoba mengingkari kenyataan. Kenyataan bahwa Damar sudah mendapat sedikit tempat di sana.

Pikiran Yasmin kembali lagi ke Onrust di masa sekarang. Ia berjalan menuju sebuah area berpagar, area pemakaman Belanda. Tempat ini kembali membuatnya mengingat ke belakang. Di pantai dekat makam inilah Fajar menyatakan perasaan padanya. Sungguh ironis, mengingat bahkan sejak awal pun hubungan mereka sudah begitu dekat dengan kematian.

Yasmin mendekati salah satu makam terbesar dan terindah disana, lalu membaca nisannya. Nisan milik seorang wanita yang usianya sama dengan dirinya, 28 tahun.

*

Walau hari masih sangat pagi tapi Maria sudah keluar rumah dan berjalan-jalan menikmati indahnya suasana laut. Entah kenapa sejak dulu ia sangat menyukai laut dan pantai. Karena itulah, setelah Mama meninggal, Papa meminta pindah tugas ke Onrust demi menghiburnya.

Ketika hari sudah mulai panas, para penduduk pulau kecil ini sudah mulai beraktivitas. Rumah-rumah sudah mulai menampakkan kehidupan. Mungkin karena para penduduk merindukan Negeri Belanda, mereka membangun rumah persis seperti  rumah-rumah Belanda. Rumah-rumah di pulau ini berjajar padat, tanpa halaman, dan ada cerobong asap imitasi di atapnya. Kehadiran rumah-rumah itu memberi nuansa tersendiri bagi Onrust, dan nuansa itu berupa keindahan.

Dulu Onrust tak seindah ini. Pada mulanya VOC hanya mendirikan dermaga, galangan kapal, dan rumah sakit. Tapi sekarang pulau ini sudah jauh berkembang. Inlander[1] menyebutnya Pulau Kapal, orang Belandalah yang menamakannya Onrust. Artinya tak pernah istirahat, dan memang seperti itulah pulau ini. Jika dibandingkan dengan dulu, Onrust sudah banyak berubah. Sekarang penduduknya sudah makin banyak, sekitar 2000 orang, termasuk 650 orang budak. Kalau tidak salah itulah  jumlah yang disebut papanya.

Walau letaknya dipisahkan lautan, namun Onrust masih termasuk kedalam kawasan Batavia. Sebab itu adakalanya Papa pergi ke Batavia, seperti sekarang. Harusnya saat Papa tak ada di rumah, ia dan Syafe’i dapat lebih leluasa bertemu. Tetapi Papa meminta pria itu turut menemani perjalanannya ke Batavia. Hal yang tidak lazim sebenarnya sebab Papa yang sangat membenciinlander malah minta ditemani salah satu budak pribuminya. Apakah papanya mulai curiga dengan hubungan mereka?

Pertemuan pertamanya dengan Syafe’i terjadi saat Maria berada di dekat dermaga waktu kapal pengangkut budak dari Borneo tiba. Matanya bertabrakan dengan mata seorang budak yang, walaupun sama kotornya seperti yang lain, namun memiliki pandangan tegas layaknya seorang ksatria. Beruntung budak tersebut dibeli oleh papanya dan tinggal di rumah mereka. Sejak itu Maria selalu mencari-cari alasan untuk dekat dengannya. Untunglah usaha Maria tak sia-sia. Syafe’i tampaknya menerima kedekatan mereka.

*

Baru kali ini ia melihat Batavia. Sungguh kota yang ramai jika dibandingkan Onrust, bahkan Kalimantan, pulau yang sebelumnya ia singgahi. Jika beruntung, saat tuannya pergi ke Staadhuis[2] dan meninggalkannya, ia bisa memulai kontak dengan para pejuang pribumi di sini. Jika ia beruntung lagi, Syafe’i dapat menggabungkan diri dengan mereka dan meninggalkan Onrust.

Namun itu berarti meninggalkan Maria.

Mengingat wanita terkasih itu, Syafe’i tertegun. Sungguh ia menyadari betapa hubungan mereka berbahaya. Namun entah mengapa logikanya kali ini sangat mudah dikalahkan perasaan. Kekalahan itu sudah dimulai sejak ia bertemu pandang dengan seorang noni Belanda di dermaga. Padahal otaknya berulang kali menekankan bahwa ia yang seorang inlander sebaiknya tak menjalin hubungan dengan noni Belanda itu. Terlebih setelah ia tahu nona itu majikannya sekaligus putri Willem van Hoove, seorang baas van Onrust[3].Bagaimana bisa ia, yang seorang pejuang, mencintai putri musuhnya yang seorang Belanda?

*

Saat pulang dari Batavia, papanya membawa kejutan tak mengenakkan berwujud Hans van Holten. Tuan van Holten (yang berulang kali meminta dipanggil Hans saja) adalah orang yang diinginkan Papa menjadi menantunya. Hans tinggal dan bekerja di Batavia. Namun dengan antusias berulang kali mengatakan bersedia pindah ke Onrust jika Maria menghendaki, sebab ia tahu Maria sangat menyukai suasana pantai.

Sejak saat itu Maria sering murung. Laut yang dulu disukainya kini tak terlalu mampu menghiburnya. Bukan hanya masalah Hans penyebabnya, tapi juga karena ia sering memergoki Syafe’i mengendap-endap keluar rumah di malam hari. Maria cemas Syafe’i melakukan sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang dirahasiakan darinya, sebab pria itu hanya diam saja ketika Maria meminta penjelasan.

*

Ia mulai  curiga. Maria-nya mulai curiga dan menuntut penjelasan. Dan Syafe’i bingung harus mengatakan apa pada kekasihnya.

“Bagaimana bisa aku berkata sedang mengumpulkan kekuatan para budak, agar mereka mau memberontak dan berjuang menguasai pulau,” bisik Syafe’i pada dirinya sendiri.

Tentu Syafe’i tak mungkin mengatakan hal itu kepada Maria. Di benak Maria, ia hanya budak biasa. Bukan seorang pejuang inlander yang ingin menyingkirkan ayahnya. Bukan seseorang yang bercita-cita bergabung dengan pejuang pribumi lainnya di Batavia. Bagi Maria, Syafe’i akan ada disampingnya selamanya, bahkan walau pada akhirnya wanita itu harus menikahi Hans van Holten. Pikiran Syafe’i kalut, terpecah di antara Maria dan perjuangan. Padahal ia tak boleh kalut. Tidak sekarang ketika malam ini mereka semua akan bertindak. Tidak di saat tujuan akhir mereka sudah semakin dekat.

*

Semua orang memutuskan bertingkah aneh malam itu. Syafe’i gelisah sejak siang. Sementara Papa tak hentinya berceloteh mengenai betapa hinanyainlander sepanjang makan malam. Ia juga mengungkit-ungkit soal Hans lagi, meminta kepastian Maria akan pernikahan mereka.

Ik masih belum bisa jawab, Papa,” jawab Maria pelan. Ia masih belum dapat menerima harus berpisah dengan Syafe’i.

Maria masih berusaha menghabiskan makan malamnya ketika Papa dengan cepat berdiri dan mengatakan malam ini ada urusan di kantornya. Belum sempat Maria menjawab, Willem buru-buru berangkat.

Karena rumah menjadi sepi, Maria memutuskan keluar lewat pintu belakang menuju paviljoen[4] para budak untuk menemui Syafe’i. Namun untuk kesekian kalinya, ia melihat pria itu menyusup keluar lewat halaman belakang. Sekali lagi Maria mencoba menepiskan kecurigaannya pada Syafe’i. Akhirnya ia memutuskan mungkin akan tidur lebih cepat saja malam ini.

*

Rasanya malam baru berlalu sejenak saat Maria mendengar keributan. Onrust sepi ketika malam, karenanya keributan seperti ini menjadi sesuatu yang sangat janggal. Tanpa menghiraukan protes pembantunya, Maria segera berganti baju dan berlari keluar. Ternyata kantor papanyalah yang menjadi sumber keributan. Kantor tersebut letaknya tak jauh dari rumah mereka. Sebagai seorang baas van Onrust, Willem memang menempati rumah yang letaknya berdekatan dengan kantor.

Dan di kantor itulah hidup Maria berakhir.

Ia melihat papanya dan para pengawal menggiring Syafe’i yang babak belur. Mereka juga memukuli dan menggiring puluhan inlander lainnya. Willem menginstruksikan beberapa perintah pada anak buahnya, lalu bergegas menarik pulang putrinya yang histeris.

Papanya diam sepanjang perjalanan yang singkat itu, hanya semakin mengeratkan genggamannya di pergelangan tangan Maria. Sementara Maria terus meronta-ronta. Sesampainya di rumah mereka, kemarahan Willem pecah. Dengan emosi papanya berteriak bahwa selama ini ia diam saja terhadap hubungan Maria dan budaknya sebab mencoba membuat Syafe’i tak curiga sedang diawasi. Maria juga berteriak, meminta penjelasan dari papanya apa yang sesungguhnya terjadi.

“Dia seorang pejuang inlander,” kata Willem keras, namun bukan suaranya yang membuat Maria kaget setengah mati. “Datang kesini, mencoba menyamar sebagai budak, lalu mencoba menghimpun kekuatan budak-budak inlander itu. Memangnya mereka bisa apa?? Memangnya mereka bisa berhasil melawan pemerintah yang memiliki kekuatan penuh?? Inlander sialan itu…benar-benar…” Papanya tak sanggup melanjutkan kata-katanya melihat putrinya menangis.

*

Hidup Syafe’i berakhir di sebuah sumur tempat beberapa inlander yang membangkang menemui ajalnya. Hidup Maria juga ikut berakhir sejak itu. Ia kini hanya berdiam di rumah, tak pernah lagi berjalan-jalan menikmati laut dan pantai yang dicintainya. Hans yang baik terkadang berkunjung dari Batavia, mencoba membuat Maria bahagia kembali. Namun keduanya tahu hal itu sia-sia. Sebelum bertemu Syafe’i mungkin dia akan dengan mudah jatuh cinta pada Hans, namun sekarang berbeda. Bahkan sampai sekarang pun ia tak akan pernah jatuh cinta lagi. Tak akan pernah sampai ia berada di dunia yang sudah dihuni Syafe’i.

Ik mis u …,[5]”  bisik Maria pelan. Tak terhitung sudah berapa kali kalimat itu ia ucapkan sejak kehilangan Syafe’i.

Keinginan Maria terkabul di sebuah pagi yang indah. Saat itu ia sedang berbaring di tempat tidur sambil melamun. Terus melamun sampai akhirnya mulai mendengar suara berisik yang keras. Lalu suara itu semakin keras. Dan semakin keras. Dan semakin keras lagi. Lalu semuanya bergetar dan hancur.

Lalu gelap dan ringan.

*

Yasmin meraba nisan indah itu. Maria van Hoove meninggal pada tahun 1800, tahun yang sama saat Inggris menyerang pulau. Karena itu kemungkinan besar ia adalah korban penyerangan itu. Yasmin tahu, Maria adalah wanita yang terkenal di pulau. Legenda setempat mengatakan wanita itu masih suka muncul pada waktu-waktu tertentu, mengenakan gaun putih yang cantik, berdiri didekat makam sambil memandang pantai tampak seperti menunggu sesuatu. Legenda mengatakan Maria menunggu kekasihnya, seorang pejuang pribumi yang dibunuh ayahnya. Ia terus menunggu sejak kekasihnya mati. Dan tetap melakukan hal itu bahkan setelah ia sendiri pun mati dalam kesendirian.

Nasib mereka sama, pikir Yasmin. Pasangan yang mereka cintai sama-sama mati muda. Tetapi ia sadar, sebetulnya tak ingin nasibnya berakhir seperti wanita itu. Ia tak ingin menjalani hidup dan mengakhirinya dalam kesepian. Ia tak ingin…

“Min…”

Yasmin menoleh mendengar namanya dipanggil oleh seorang pria. Ia bangkit mencari asal suara dan melihat Damar berdiri di dekat bangunan museum.

“Aku khawatir kamu pergi sendiri. Jadi aku batalin urusan hari ini dan nyusul kamu secepatnya,” katanya sambil tersenyum lebar sementara tangannya memegang erat kamera SLRnya.

Yasmin menghela nafas sambil memandang Damar. Damar memang baik dan manis. Tetapi ia tak bisa menjadi pengganti Fajar. Dan Yasmin memang tak ingin seorang pun menggantikan Fajar. Yasmin hanya menginginkan Damar, bukan seorang pemeran pengganti. Akhirnya ia sadar bahwa ia tak bisa terus-menerus menunggu seolah-olah Fajar akan kembali. Hidupnya harus berjalan terus, harus terus memandang ke depan. Dan dimulai dengan memandang Damar yang berada di depannya.

Yasmin balas tersenyum. Mungkin hari ini dia dan Damar akan memulai sesuatu.

Tamat

Keterangan:

Beberapa hal dalam kisah ini bukanlah fiksi. Onrust adalah pulau di Kepulauan Seribu yang diserang Inggris pada 1800. Tokoh Maria diambil dari tokoh Maria van Velde, yang mati di usia 28 tahun. Nisannya bisa dilihat di pemakaman. Legenda mengenai penampakan hantu Maria memang tersebar di Pulau. Sebuah sumur di pulau ini juga kabarnya menjadi tempat pembuangan para pembangkang.

 


[1] Pribumi[2] Kantor walikota[3] Kepala Pulau Onrust[4] paviliun

[5] Aku merindukanmu..

 

by Nyysha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts with Thumbnails