wisma novel Headline Animator

wisma novel

Rabu, 04 Agustus 2010

L’insegnante

CHAPTER 1:
Ti Amo, Italiano!

Namaku Alexandria Renata, biasa dipanggil Rena. Umurku enambelas tahun, tapi delapan bulan lagi aku akan sweet seventeen-an! Ups, can't hardly wait! Saat ini aku duduk di kelas dua SMA Pelita Bangsa. Dan sepertinya tidak ada hal yang menarik lagi untuk diceritakan tentang kehidupanku kecuali: I have two very best friends!
Namanya, Sekar Milana dan Nathan Allesio Kuncoro. Sekar dan aku sahabatan sejak berumur lima tahun sampai sekarang, dan kuharap tentu saja untuk selamanya. We are completely different girls! Bagaimana tidak? Sekar sahabatku itu terobsesi banget sama bule, dan dalam hidupnya dia tidak pernah berpikir untuk pacaran sama orang Indonesia apalagi menikah. Ups, dia mau married sama bule dengan syarat sebagai berikut:
Satu: Tampangnya harus mirip Adam Levine, vokalis Maroon 5 yang sangat dipujanya.
Dua: Bodinya wajib kayak back player tim Real Madrid sekaligus Azzurinya Italia Fabio Cannnavaro yang menurut dia idaman setiap cewek kecuali yang abnormal.
Tiga: Harus Italiano (cowok Italia), nggak akan ada daftar blonde boysatau cowok bertampang boybands di list-nya. Kata lainnya sih, cowok kemayu!
Empat: Ini yang terakhir. Kaya. Mesti kaya. Ditaruh paling bawah dalam daftar biar nggak terkesan matre.
See....
Betapa gila obsesinya itu? Tapi Aku tidak pernah mengatakan padanya bahwa dia harus medical check-up ke psikiater. Justru aku selalu mendukungnya karena secara Sekar adalah tipe cewek yang bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Karena dia smart, ceria, dan pede habis!
Nah, sekarang let's talk about, Nathan!
Kalau berbicara tentang Nathan (aku biasa memanggilnya Lesi), secara dia adalah tipe cowok matre yang suka memanfaatkan ketampanannya untuk memperdaya cewek-cewek supaya mentraktirnya makan, nonton, atau membelikan barang-barang yang dia inginkan. Memang sih Nathan termasuk kategori cowok yang sekali dilihat bisa buat cewek ngiler. Dia itu bertampang indo alias blaster (eits... ini bukan jenis herder ya?) cozNyokapnya blasteran Jerman-Padang, Bokapnya Italia-Jawa. Katanya sih buyutnya orang Nordic, terus Nenek Buyutnya asli British tapi secara dia juga bilang ada darah Aceh.
Silsilah keluarga yang rumit!
Dan kalau dia sudah merunut satu per satu silsilah keluarganya yang berarsip seribu halaman folio ketik satu spasi, aku pasti lari meninggalkan dia yang masih nyerocos dengan mulut berbusa-busa!
Pufh!
Silsilah sih silsilah. Tapi kalau lebih tebal dari novelnya JK. Rowling itu apa nggak semaput? Eh, bukannya aku nggak setia kawan, lho! Bukan. Tapi aku sudah muak mendengar dia bercerita panjang-lebar tentang silisilah keluarganya. Memang, nggak ada cerita lain apa?
"Rena, kamu tahu nggak Nenek Buyut aku itu...."
Begini-begitu!
"Rena, tahu nggak kalau bokapnya Bokap aku...."
Begini-begitu!
"Rena, tahu nggak neneknya Nyokap aku...."
Begini-begitu!
Ups! Capeee deh!
Makanya, aku pasti lari kalau Nathan sudah membongkar arsip silsilah keluarganya.
By the way, anak itu baik, meski kadang-kadang jutek. Tapi, itulah. Kami saling menutupi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Dan, mengenai aku sendiri, hm aku punya prinsip:
'Tidak Ada yang Namanya Cinta Sejati!'.
Karena secara tidak ada yang namanya cowok itu tidak BRENGSEK!
Mungkin perasaan ini ada karena Ayahku sendiri yang menumbuhkan benih kebencian itu. Orang yang aku sebut Ayah itu, tidak pernah aku kenal sama sekali. Yang aku tahu, dia bernama James. Dan kebetulan pula dia orang bule yang pergi begitu saja ketika Bunda mengandungku!
Pufh... atau boleh jadi karena Ryan — my first love alias boyfriend-ku — yang tega mencabik hatiku. Semua karena cewek pindahan dari Bandung yang bernama Mitha! Astaga, cewek itu membuatku menangis berbulan-bulan!
Dan sejak saat itu aku menutup hatiku dengan dinding baja, sehingga tidak satu cowok pun yang dapat menembus dan akan menghancurkanku lagi.

***

CHAPTER 2:
Kenangan Masa Lalu

Suatu pagi, Bu Lely, wali kelasku masuk bersama seorang cewek. Tidak cantik-cantik amat. Tapi dia tampak manis. Matanya sedang. Tidak terlalu besar, juga tidak terlau sipit. Kalau kerennya sih, kubilang dia bermata equator indah. Garis aristokratnya masih kental Pasundan barangkali, ya? Entahlah, yang pasti dia pasti menarik! So, belum lama aku memuji dia dalam hati saja, cowok-cowok sekelasku sudah pada belingsatan kayak cacing kepanasan. Ada yang berbisik-bisik, ada pula yang bersiul kecil — tapi untuk kelakuan yang terakhir ini berlangsung tidak lama sebab pelototan mata di balik kacamata tebal Bu Lely membungkam mereka dalam diam.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman pindahan dari Bandung," jelas Bu Lely, masih membimbing gadis yang agak malu-malu itu tampil di depan. "Ayo, diperkenalkan dirinya."
"Selamat pagi, teman-teman," sapanya ragu. "Na-nama saya, Paramitha Asmara."
"Wah, sering jatuh cinta, dong!" teriak Boy Tarampa spontan. "Asmara!"
Anak-anak lainnya langsung tertawa terpingkal. Namun lagi-lagi tidak lama karena Bu Lely menepuk-nepuk tangannya mengaba untuk diam. "Sudah, sudah. Cukup anak-anak."
"Ta-tapi kalian boleh panggil saya dengan 'Mitha' aja," lanjut cewek imut bernama Mitha itu.
"Udah punya pacar belum," teiak Boy Tarampa lagi — catatan ya, Si Boy ini anak yang paling nakal di kelas kami!
Mitha semakin tergagap. "Sa-saya...."
"Diam, Boy!" tegur Bu Lely.
Boy diam tapi tampak masih cekikikan di belakang bangkunya. Diam-diam saya lirik Ryan, hanya dialah satu-satunya siswa yang tidak tertawa.
Sejak saat itulah, Mitha masuk menjadi bagian dari hidup kami, dan ihwal andilnya kehancuran hati aku.

***

Ryan adalah ketua kelas di kelasku. Orangnya smart — nah, itulah point nomor satu yang menjadi bargainning di benakku jika ingin menjadi pacarku. Dia itu indo — hei, kenapa di dalam hidupku selalu hadir manusia jenis indo-blaster kayak diriku pula?! But, yang pasti aku jatuh cinta padanya bukan karena dia jenis manusia setengah alias indo. Bukan. Tapi ya itu tadi. Pintar!
Ryan berayah Ceko, asal Praha, dan ibu berasal dari Bandung. Ya, kayak asal moyangnya Mitha itulah! Ryan lahir di Indonesia karena meski ayahnya asli Ceko, tapi katanya sih beliau sudah WNI mengikuti ibunya — hm, cinta memang dapat menaklukkan siapa saja! Ayahnya merupakan salah satu staf Kedubes Ceko di Indonesia, yang pada akhirnya menikah dengan ibunya. Entahlah selanjutnya. Sebab itu urusan hati mereka. Jadinya, aku kurang etis kalau menanyakan lebih dalam perihal percintaan ayah dan ibunya Si Ryan itu. Oya, nama lengkap Ryan adalah Ryanamonav Tcezky-Romanov. Heh, ribet ya, bikin lidah kelipat-lipat.
Kami pacaran secara alamiah. Kurang lebih setahun. Namun setelah kehadiran Mitha, dia jadi aneh. Dia mulai pedekate sama cewek sabar itu.
Setiap hari kami bertengkar. (Properties of "wisma Novel" http://wismanovel.blogspot.com/)
Setiap hari dia bikin aku menangis.
Alasannya selalu saja ada jika dia pingin menghindariku — yang pada akhirnya kuketahui bahwa dia jalan bareng Mitha!
Dan kami putus!
Aku tidak tahan dia selingkuh begitu.
Sampai sekarang aku tidak mengerti kesalahan apa yang telah kuperbuat terhadap Ryan sehingga dia terpikat sama Mitha!
Entahlah!
Mungkin Ryan boring jalan bareng aku!

***

CHAPTER 3:
Mengejar Bule

Hari ini Sekar sweet seventeen.
"Met ultah, ya," kataku pada Sekar, menciumi pipi kiri-kanannya kemudian.
"Buon compleanno," seru Nathan yang ingin memeluk Sekar, namun cewek itu langsung melototkan mata segalak singa hamil dan kontan membuat cowok itu mengurungkan niatnya. Aku tersenyum.
Sekar mendamprat. "Bahasa apa tuh? Nggak pakai peluk-peluk, ya?!"
Nathan yang cemberut sewaktu Sekar menghindarinya mencibir. "Bagaimana, sih? Katanya mau dapat Italiano, tapi bahasanya aja nggak ngerti?"
Sekar cuma bisa senyum-senyum, dan meninggalkan Nathan untuk menghampiri tamu pestanya yang lain. Nathan mengeluh padaku karena sikap Sekar yang diskriminasi bangsa itu. Sekar tidak mau dipeluk Nathan sahabat cowoknya sendiri, secara karena dia bukan bule. Tapi kalau dipikir-pikir, Nathan itu kan turunan indo. Jadi mestinya masih ada gen bule dalam tubuhnya. Nathan juga mengatakan padaku kalau sikap Sekar yang mendewa-dewakan bule itu harus segera dihentikan.
"Caranya?" tanyaku
"Suruh dia mulai berburu bule, atau paling tidak belajar bahasa Italia dulu. Kan dia mau Italiano?" jawab Nathan mengurai sewot.
Hm, kalau dipikir memang seharusnya Sekar mulai berusaha untuk mewujudkan keinginanya itu. Kalau terus memproklamairkan tanpa usaha, hanya akan menjadi 'tong kosong berbunyi nyaring'. Aku setuju dengan pendapat Nathan tentang Sekar yang harus mulai mengejar mimpinya itu. Aku sepakat dengan Nathan untuk ngomporin Sekar agar dia mau menghentikan obsesinya dan mulai berusaha.
"Aduh, trims ya atas kadonya? Kotak musiknya awesome, alunan intro musik 'She Will Be Loved'. Uhuh... romantis banget," puji Sekar pada kado yang kuberikan.
"Sekar, kita berburu bule yuk!" ajakku.
"Hah, apa?" Sekar terlonjak kaget.
"Kita cari bule di tempat dugem atau Jalan Jaksa," lontarku. "Atau di mana aja, kek. Terserah, yang penting kita dapat bule."
"Seru, tuh," timpal Nathan.
Sekar diam sejenak dan berkata. "Nggak, ah. Bule yang ada di tempat dugem pasti udah terkontaminasi kehidupan undercover Jakarta. Ih, najis deh. Nanti aku di sangka jablay lagi sama mereka."
"Emang di Barat sana dunianya nggak kayak di Jakarta apa? Sama aja, Sekar! Secara liberalisme yang dianut dunia Barat lebih parah lagi," sanggah Nathan sok jadul.
"Tapi, aku kan nggak lihat apa yang mereka lakukan secara langsung di sana. Lagian, cowok bule itu punya pandangan beda tentang cewek Indonesia. Sudut pandang cowok bule berbeda dengan cowok Indonesia, man! Mereka nggak melihat sesuatu yang biasa dipuja cowok Indonesia. Mereka melihat sesuatu yang indah dari cewek Indonesia," jelas Sekar.
"Apa tuh maksudnya?" tanyaku penasaran.
"Bule nggak selalu kagumin cewek berambut lurus panjang, kulit kuning langsat, dan muka bebas jerawat yang biasa dipuja cowok Indonesia."
"Oh ya? Apa buktinya?" tanya Nathan kurang yakin.
"Banyak bule cakep jalan sama cewek Indonesia yang biasa-biasa aja tampangnya. Malah jauh dari cantik versi Indonesia."
"Kalau itu sih bisa aja mereka lihatnya dari good in bed," kataku lantas terkekeh. "Hehehe...."
"Itu hal yang biologis Rena, dan aku rasa wajar semua cowok ingin punya cewek yang bisa jadi tempat pemenuhan hasrat biologis mereka." Sekar baralasan seolah-olah cewek hanya barang atau, lebih tepatnya, tempat penyaluran birahi cowok.
"Kenapa semua cowok itu berengsek?" keluhku dengan amarah mengubun.
"Nggak semua, Rena. Ayahku nggak, kok," bantah Sekar tenang.
"Aku juga nggak," bela Nathan.
"Kalau kamu nggak... NGGAK SALAH LAGI!" seruku berbarengan Sekar.
Nathan cemberut, dan dia mengalihkan pembicaraan dengan berkata. "Eh, Sekar... kalau nggak mau dugem gimana mau dapat bule?"
"Cari bule bukan hanya di tempat seperti itu, kan?" Sekar menanggapi dengan balik bertanya.
"Ke Bali aja. Di sana kan surganya para bule," saranku.
"Di Jakarta aja banyak. Ngapain buang uang sampai ke Bali," sanggah Sekar cuek.
"Gimana kalau kamu les bahasa Italia dulu untuk bisa komunikasi sama Italiano. Trus, kali aja guru les bahasa Italia-nya bule ganteng, kan bisa jadi batu loncatan untuk dapetin bule," seloroh Nathan asal.
Sekar memandang tanaman anggreknya, di halaman depan rumahnya. Sisa-sisa hasil pesta ultah berserakan di mana-mana. Hanya aku dan Nathan yang masih menemaninya seusai acara tadi. Entah apa yang dia pikirkannya lagi. Dia belum menanggapi. Tapi aku tahu dia pasti terbujuk rayuan Nathan untuk les bahasa Italia.

***

CHAPTER 4:
Kursus Bahasa Italia

Benar saja, Sekar terbujuk rayuan positif Nathan untuk ikut kursus bahasa Italia di Pusat Kebudayaan Italia. Bagus untuk langkah awal. Sebab dengan begitu Sekar dapat mewujudkan obsesinya — meskipun obsesinya itu bertentangan denganku!
Dan karena itu pulalah, sekarang ini aku terjebak di kelas Italia yang diikuti oleh Sekar. Aku mengurut dada. Well, thank you very much buat Sekar yang telah membujuk Bunda tanpa sepengetahuanku untuk turut serta kursus Italia-nya itu. Alasannya cukup simpel dan masuk akal pada Bunda:
"Biar Rena bisa lebih banyak bergaul, punya banyak teman, dan tambah pengetahuan, Tante!"
Asem!
Lalu, embel-embel pemanisnya: Di era globalisasi dimana bahasa jadi faktor penting untuk bisa berhasil dan bla-bla-bla, yang membuat Bunda tidak berniat sama sekali untuk menolaknya!
Aku pasti akan mencubitnya setelah kelas yang membosankan ini berakhir. Terus terang saja, nih! Aku sama sekali tidak mendengarkan apa yang diajarkan oleh guru bahasa Italia bernama Michella Cromodi — yang suara kerasnya membuatku tetap membuka mata walaupun pendingin udara yang ada di ruangan membuatku ngantuk berat.
"Scusi, come ti chiami?"
Aku tergagap ketika Michella Cromodi menghampiri bangkuku.
"Apa? What?"
"Non, ini bukan bahasa Inggris! Kita sedang belajar bahasa Italia. Mio Dio!" serunya sembari melototkan matanya ke arahku.
Aku langsung tersenyum malu dan melirik Sekar yang ada di sampingku, mengisyaratkan dia untuk menolongku.
"Dia nanyain nama kamu," bisik Sekar.
"Alexandria Renata," jawabku tergeragap.
"Allora, Alexandria! Jangan tidak berkonsentarsi di kelas saya."
"Ya," jawabku.
Setelah insiden peneguran oleh Italiana itu, aku jadi semakin menggebu untuk mencubit Sekar.
"Sekar," panggilku saat bubaran kelas
"Si," jawabnya berbahasa Italia. "Apaan lagi, si... si...." kataku gemas.
"Rena, si berarti ya. Mio dio? Kamu nyimak pelajarannya nggak sih?"
"Nggak," ketusku
"Kamu marah ya sama aku?"
"Ya. Ngapain kamu bujuk Bunda biar aku ikut kursus yang aku sendiri malas ngejalaninnya. Udah gitu, gurunya buat aku kelihatan tolol lagi. Huh, kesan pertama yang jelek banget!" cerocosku.
"Maaf, deh, " sesal Sekar lalu tersenyum. Sialan! Lain di bibir lain di hati.
"Aku mau kamu ada di samping aku biar aku lebih pede deketin bule."
"Maksud kamu apa, sih?"
"Rena, kamu tahu kan bagaimana terobsesinya aku sama bule. Bule is my wildest dream, tapi di sisi lain aku takut sama mereka. Aku nggak pede. Dan aku butuh orang yang bisa support aku."
Aku spechless. Ada apa dengan Sekar yang sebelumnya aku kenal pede itu? Tapi sudahlah. Aku tidak ingin memikirkan kejadian yang tadi. Yang jelas aku pasrah saja untuk ikutan kelas kursus yang membosankan ini!
Setidaknya aku sudah berandil membantu untuk mewujudkan obsesi Sekar, dan manut mengakuri amanat Bunda.

***

Tiga minggu sudah sejak aku dan Sekar ikut kursus itu, anehnya (sebenarnya tidak aneh bagiku), Sekar sudah bisa cas-cis-cus. Aku cuma hapal kata-kata ciao, grazie, si, non, allora, dan come ti chiami.
"Gimana, udah bisa bahasa Italianya?" ledek Nathan kepadaku
"Si," jawabku mantap.
"Allora, dove e' Sekar?" tanya Nathan dengan bahasa Italia.
"Hah? Apaan tuh artinya?" tanyaku terlongong.
"Katanya udah bisa? Masa pertanyaan mudah nggak tahu artinya?"
"No comment," kataku mengelak, lalu tertawa.
"Payah!" ujar Nathan, mengibaskan tangannya.
Akhirnya aku bertanya setelah meredakan tawa. "Tadi artinya apaan sih, Nat?"
"Dove e' Sekar? Artinya, di mana Sekar?" jelas Nathan.
"Non lo so," jawabku, mendemonstrasikan bahasa Italia yang sedikit kuhapal.
"Lho, kamu kan sohib kentalnya. Masa sih kamu nggak tahu?"
"Ya, emang aku nggak tahu dia di mana? Emangnya aku Bonyoknya yang mesti tahu ke mana dia pergi?"
Nathan terdiam sejenak.
"Hei, kamu kok tahu artinya non lo so? Kamu bisa bahasa Italia tapi pura-pura bego, ya? Jangan bilang kamu juga ikut kursus Italia biar bisa bareng kita. Lagian, ngapain juga nanyain Sekar? Tumben banget?" tanyaku bertubi-tubi
"Untuk pertanyaan kamu yang pertama: aku bisalah sedikit-sedikit bahasa Italia secara almarhum kakek aku dari pihak Bokap itu Italiano. Trus, jawaban atas pertanyaan kamu yang kedua, ngapain aku ikut kursus itu atas permintaan Bokap aku. Beliau maunya aku bisa bahasa Italia. Nah, untuk pertanyaan kamu yang terakhir: aku nyari dan butuh Sekar buat nyontek PR Fisika. Pelajaran pertama nanti Fisika, Bu. Jadi, nyonteknya tinggal setengah jam-an lagi. Mesti dikebut. Kamu tahu sendiri kan kalau Pak Seto galaknya minta amplop," jelas Nathan berpanjang-lebar.
"PR Fisika? Emang ada?"
"LKS halaman 18-20."
"MATI GUE!" teriakku sembari menepuk dahi keras.
Aku baru ingat ada PR Fisika. Dan aku sama sekali belum nyontek sama punya Sekar. Biasanya aku ingat kalau ada PR. Entah mengapa kemarin aku lupa. Biasanya aku pasti nyontek dengan damai sama Sekar sehari sebelum jam pelajaran. AKU LUPA!
"Pagi, teman-teman," Sekar tiba-tiba datang, berdiri di bawah bingkai pintu.
"Here! She is my Angel!" sahut Nathan, terlonjak gembira. Dibimbingnya gadis yang punya obsesi ngegaet bule itu duduk di sampingku. Tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung mengaduk-ngaduk tas Sekar untuk mencari LKS.
"Mau nyontek, ya?" tanya Sekar enteng, melirik sok dibutuhkan. "Nih, LKS-nya. Udah, udah, jangan bongkar tas aku," sahutnya menyambung sembari menyerahkan LKS-nya yang sudah tergulung ke tangan Nathan.
"Duh, gimana dong?! Aku belum kerjain PR, dan pasti nggak sempat menyalin semuanya diembat sama tuh Anak!" gerutuku, saat melihat Nathan bagai singa kelaparan yang menyantap LKS Sekar. "Aduh, jam berapa lagi ini? Hm, lebih baik aku bolos, ah. Daripada diomelin Pak Seto! Bilang apa, kek. Aku sakit atau lagi welcome to the moon, kek. Terserah. Aku serahin tugas itu padamu ya, Sekar? Aku pamit dulu, ya? Grazie!" jelasku panik, lalu meminta agar Sekar membantuku 'berbohong' pada Pak Seto. Dengan cemas dan buru-buru aku bereskan bukuku yang berserakan di atas meja. Lantas lari keluar kelas, keluar gerbang sekolah, dan bolos!
"Renaaaa!" teriak Sekar dari kejauhan.

***

CHAPTER 5:
L'insegnante

Hari ini aku berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah. Satu jam sebelum bel tanda masuk dibunyikan. Hal ini aku lakukan karena aku merasa sangat bersalah sama Bunda. Kemain pas bolos sekolah, aku milih pulang ke rumah karena 'home sweet home is my safest place to hide'. Lagipula, Bunda lagi kerja di kantor. Jadi, aku bisa bebas sendirian saja dari pagi sampai jam lima sore. Tapi dasar sial, ketika Bunda pulang jam lima sore, Bunda malah marah-marah karena dia tahu dari Sekar bahwa aku membolos sekolah cuma gara-gara tidak mengerjakan PR Fisika itu. Terus, jam lima sore kemarin pula — dimana seharusnya aku kursus bahasa Italia, aku juga membolos. Tapi bukan sengaja — namun karena aku lupa. Sumpah beneran, aku lupa kalau sore kemarin ada jadwal les!
Akibatnya, Bunda meledakkan amarahnya. Mengatakan bahwa dia sudah mengorbankan segala-galanya. Membesarkan, merawat, menyekolahkan, dan lain sebagainya supaya aku bisa berhasil serta menjadi orang sukses! Bahwa mempertahankan aku semasa janin dalam rahimnya sewaktu mengandungku adalah pilihan tepat yang diputuskannya kala itu. Karena aku adalah satu-satunya harapan dia yang paling besar. Sambil menangis, Bunda juga mengatakan kalau pendidikan adalah bekal yang bisa dia berikan padaku dalam hidup ini.
Huhuhu.....
Bagaimana aku tidak turut mengucurkan airmata? Aku merasa sangat berdosa, dan menyesal telah melakukan kesalahan pada Bunda. Tapi sejak saat itu — maksudku, kemarin, aku berikrar untuk tidak mengulangi perbuatanku yang tolol itu lagi. Aku akan menjadi Alexandria Renata yang baik. Yang tidak akan membolos sekolah dan les lagi.
I just wanna make Bunda proud of me.

***

"Renaaa... mia amica bella" teriak Sekar begitu melihatku. Dia langsung memelukku kuat-kuat sampai aku sesak napas. Huk-huk!
"Aku udah nemuin dia, Rena! Aku udah nemuin bule yang bakal jadi belahan jiwa aku!"
Apa sih maksudnya Sekar? Bule?! Ini masih pagi. Aku pikir, akulah orang pertama yang datang ke sekolah. Aku adalah siswi yang datang paling pagi. Ternyata Sekar datang duluan!
"Rena, duduk sini! Aku ceritain semuanya," perintahnya, menarik tanganku untuk duduk di sampingnya pada bangku taman sekolah.
"Entar dulu," sergahku, tapi tetap duduk di sampingnya. "Aku marah sama kamu!" ujarku pura-pura sewot.
"Emang aku salah apaan?" Sekar sok bloon.
"Eh, ngeles lagi ya?"
Sekar tersenyum dengan perasaan tidak bersalah. "Sori, deh. Soal semalam ya?"
"Soal apa lagi?"
Sekar mengatupkan kedua belah telapak tangannya. "Iya, sori-sori banget."
"Habis...."
"Hei, Bunda kamu kasih petuah banyakan mana dengan LKS-nya Pak Seto?"
"Eh, ngeledek lagi. Listen! Aku sekarang lagi marah. Marah banget. Aku marah karena kamu kasih tahu Bunda kalau aku bolos sekolah gara-gara nggak ngerjain PR Fisika! Ember banget, sih?!"
"Maaf, deh Rena. Habis, aku hubungin ke HP-mu tapi nggak bisa! Aku telepon ke rumah, nggak ada yang angkat. So, akhirnya dengan sangat terpaksa aku telepon HP Bunda kamu buat memastikan kalau kamu nggak kenapa-kenapa."
Aku membuang muka. Masih pura-pura sewot.
"Maaf, deh. Plis, tunda dulu marahnya ya? Aku mau cerita tentang bule itu."
"Apaan, sih?" tanyaku akhirnya bersuara setelah Sekar menarik-narik bahuku.
Sekar cerita panjang lebar tentang bule itu yang ternyata guru bahasa Italia yang menggantikan Michella Cromodi. Namanya Francesco Levi, dan dia adalah mahasiswa di Universita' Roma Tre' yang sedang ikut pertukaran pelajar Cultural Diversity di Indonesia selama tiga bulan. Sekar juga cerita Cesco (nama panggilan Francesco) itu jago banget bahasa Indonesianya. Terus, dia lebih tampan ribuaan kali dari Francesco Totti — lebih muda, lebih baik, lebih keren, dan lebih kiyut. Namun, yang terpenting dari semua itu kata Sekar; Cescois available alias Jomblo bin single yang dalam bahasa Italianya adalah solo.
"U have to see Francesco Levi, Mia bello ragazzo...." Sekar menggelinjang kenes.
Dih, centil banget. Aku mencibir.
"Rena Sayang, nggak dapat Adam Levine dapat Francesco Levi juga nggak apa-apa, yah? Toh nama belakang mereka hampir sama. Iyakan?" Rena mengatupkan kedua belah telapak tangannya ke dada. Matanya memejam.
Genit! rutukku.

***

Gara-gara Sekar cerita tentang Cesco yang tidak pernah berujung itu, aku jadi ikut-ikut penasaran begitu. Ingin tahu 'kedahsyatan' sosok yang dia gambarkan sesempurna mungkin. Rasanya aku jadi nggak sabaran untuk menunggu hari ini, dimana aku akan les bareng Sekar. Dan tentu saja, melihat seberapa tampan L'insegnante alias guru kita ini, sampai Sekar bela-belain ganti baju seragamnya dengan baju paling modis yang dia miliki. Terus, dandan habis dengan semprotan parfumnya yang paling wangi. Lalu, datang satu jam lebih awal sebelum les dimulai dengan harapan dapat melihat Cesco lebih lama dan lebih lama lagi!
"Ciao, Sekar," kata seseorang di belakang kami. Aku lihat Sekar bengong seperti kesetrum listrik. Aku berbalik, mendapati cowok bule asal Italia. biasa saja, kok!
"Ci-ciao, Signor Levi," balas Sekar tergeragap.
"Tidak, jangan panggil saya Signor Levi," tanggap guru muda itu. "Cukup Cesco aja."
"Yup, Signor... maksud saya, Cesco." Sekar tersenyum malu-malu, seperti kucing!
"Saya duluan, ya?" kata Cesco, berlalu sambil tersenyum. Sebelum itu, aku yakin banget dia memandangku dari ujung kepala ke ujung kaki. Aku merasa tidak enak dipandang seperti itu.
"Itu... Cesco," bisik Sekar kegirangan. Dia melonjak-lonjak kecil, mengenggam tanganku erat.
"Iya, iya, tahu!" ujarku kesal. Habis, orang biasa-biasa saja tapi ditanggapi seolah bertemu dengan malaikat yang paling tampan sedunia dan seakhirat.
"What do you think about him?" Sekar bertanya, mulai bernyanyi tentang cowok idolanya itu.
Aku melengos malas. "Biasa aja."
"Maksudmu?"
"Sama aja kayak cowok bule lainnya," jawabku cuek. "Putih, tinggi. Tapi bedanya rambut dia dark brown gitu. Nggak pirang."
"Malas ah, ngomong sama kamu!" Sekar tersinggung. Tidak suka aku menanggapi idolanya itu dengan nilai level sedang.

***

CHAPTER 6:
Simpatik

Kelas Italiaku yang muridnya berjumlah delapan orang ini sekarang seperti menjadi delapanpuluh orang. Setiap anak berusaha nanya, minta penjelasan ulang, ini dan itu.
Tidak penting banget, deh!
Dan, ini nih yang menjengkelkan aku. Bukannya ngebahas pelajaran, Cesco malah balik bertanya tentang budaya Indonesia yang sangat disukainya. Tentang kebiasaan-kebiasaan orang Indonesia. Tentang hal-hal mistik yang masih banyak yang diyakini oleh penduduk Indonesia terutama di pedesaan. Lantas, setelah mendengar cerita-cerita dari para cewek ganjen teman-teman satu lesku, guru muda itu akan tersenyum, tertawa, atau menggelengkan kepala karena bingung dan terpukau.
Tapi lepas dari semua itu, aku akui kalau senyum cowok Italia itu memang menarik. Aku takjub sama keberhasilan Cesco yang ngebuat suasana kelas jadi atraktif dan hidup. Anak-anak jadi betah belajar. Beda dengan guru terdahulu. Hm, tapi yang paling kusuka dari Cesco adalah ketika dia dia memandang langsung ke mata muridnya. Sepertinya....
"Allora, come ti chiami?" tanya Cesco padaku.
"Mi chiama Alexandria Renata."
"Alexandria? Alexandria bukannya nama kota tua di Mesir?" tanyanya dengan dahi mengerut.
"Si," anggukku.
"Kamu lahir di kota Alexandria?" tanyanya penasaran.
"Non."
"Kenapa namanya Alexandria?" tanyanya lagi
"Non lo so," jawabku jengah ditanya-tanya begitu. Heran. Dadaku sedikit berdegup kencang.
"Rupanya banyak orang bernama kota, ya?" ujarnya sedikit bercanda. "Paris Hilton, Chelsea Clinton, atau Brooklyn Beckham."
Penting apa nanya-nanya asal-usul namaku? Kenapa namaku Alexandria? Kenapa orang namain anaknya sama kayak nama kota? Gila nih, bule! geliku dalam hati.
"Alexandria, mau bertanya?"
"Non, Signor Cesco."
"Cesco. Cukup panggil aku Cesco aja."
Aku tergeragap. Namun mengangguk kemudian.
"Ha capito?"
"Si," kataku
"Allora, Alexandria tulis di papan jawaban soal nomor lima sampai sepuluh."
"Hah...."

***

I did it again! Fool again!
Kenapa juga aku selalu bermasalah dengan guru-guru Italia itu? Tidak Michella, tidak juga Cesco, pujaan hatinya si Sekar itu! Dia membuatku tidak hanya malu karena aku tidak bisa mengerjakan banyak soal, tapi dia juga memberikan aku pelajaran eksta untuk mempelajari bahasa Italia denganya. Alasannya, aku lambat sekali dalam pelajarannya — bahkan murid yang paling lambat di antara murid-murid yang pernah diajarnya. Dua jam sebelum kelas dimulai, aku mesti menemuinya di perpustakaan. Dan ini hari pertamaku belajar intensif bersama Cesco. Terus terang saja, aku malas. Malas banget. Tapi begitu teringat janjiku pada Bunda untuk mau sungguh-sungguh belajar, maka aku pasti menggebah jauh-jauh rasa malasku tersebut.
"Ciao Alexandria," sapa Cesco ramah begitu melihatku di bawah bingkai pintu perpustakaan.
"Ciao, Cesco," balasku.
Dia mengaba supaya aku duduk di seberang meja. Dia pun duduk setelah sesaat berdiri tadi. Hm, Cesco sangat santun. Tidak salah kalau aku banyak mendengar cerita dari Sekar yang mengatakan kalau cowok-cowok Italia memang romantis! Hei, bukankah muasal Valentine Days juga berasal dari Kota Pizza tersebut. Kalau tidak salah, Valentine diangkat berdasarkan sebuah nama 'orang suci' yang biasa disebut Santo di sana. Ya, ya. Santo Valentino! Seorang bijak yang banyak mengabdikan dirinya untuk cinta dan kasih kemanusiaan.
"Silakan duduk, Alexandria."
"Bisa panggil aku dengan sebutan Rena aja," sahutku, lalu melayangkan satu senyuman yang kuanggap paling manis.
"Rena, oke."
Satu jam kami bersama. Cesco tampak antusias, dan tak pernah sekalipun merasa jenuh untuk bikin aku mengerti dengan baik bahasa Italia. Apa yang aku bayangkan tentang rasa jenuh mengikuti pelajarannya selama ini mendadak melenyap dari benakku. Rupanya Cesco mengerti trik belajar-mengajar yang baik. Apa yang dibahasnya menjadi lebih menarik. Kadang-kadang aku dibuat tertawa dan terpingkal-pingkal oleh lelucon serta cerita-cerita serunya tentang kehidupan masyarakat Italia. Dia juga menceritakan kehidupan Kota Roma, sepakbola, sampai kuliner khas Italia. Hm, dia juga bilang jatuh cinta sama Indonesia, dan sangat suka dengan masakan Padang — meski kadang-kadang kepedasan dan mulas bolak-balik ke toilet! Pokoknya hari ini aku dibuat hepi. Hepi banget. Aku merasa sedang berhadapan dengan seorang sahabat yang bersahaja. Dan bukannya guru killer seperti Michella Cromodi!
Dan sejak saat itu, aku menjadi lebih terbuka padanya....

***

CHAPTER 7:
Aku Bukan Mak Comblang

"Rena," Sekar memanggilku dengan suara sedikit sember. "Udah beberapa minggu ini, setiap aku ngajak kamu untuk berangkat les bareng, kamu pasti nolak! Trus, setiap aku datang ke tempat les, kamu pasti udah sampai di sana. Udah ngobrol sama Cesco! Bisa kasih penjelasan?" tuntut Sekar dengan nada kurang senang.
Oke, selama beberapa minggu ini hubunganku dengan Cesco bukan hanya sekedar murid dan guru. Tapi sudah menjadi sebuah tali pertemanan yang mengasyikkan. Yah, setidaknya itu menurutku — sejak pelajaran ekstra di perpustakaan. Aku dan Cesco seperti sudah kenal lama, dan dalam hitungan beberapa minggu saja aku dan Cesco sudah menjadi karib tak terpisahkan. Hal ini aku rahasiakan dari Sekar karena aku takut Sekar salah mengartikan hubungan atara aku dan Cesco. Tapi aku tidak mau berbohong terus pada Sekar.
Aku tarik lembut tangan Sekar. "Sekar, aku mau bicara sama kamu."
"Tentang apa?"
"Sebenarnya Cesco nyuruh aku untuk nermuin dia lebih awal dari jam kursus. Nah, makanya aku selalu menolak jemputanmu."
Sekar tampak membelalakkan mata. "Untuk apa?"
Aku ragu. Tapi akhirnya kujawabi juga dengan kalimat terbata. "Ja-jangan salah paham dulu. Katanya sih, untuk ngasih aku kursus tambahan di perpustakaan bareng dia karena secara aku murid super bego dalam kelasnya."
Sekar mencak. "Trus, kenapa kamu nggak ngasih tahu aku, Rena?!"
"Aku takut kamu marah, Sekar. Aku takut kamu bakal salah sangka terhadap aku. Aku nggak mau kamu anggap lagi pedekate sama Cesco. Aku nggak mau dianggap cewek kegatelan. Padahal...."
"Ak-aku...."
"Sori ya, Sekar. Bukan maksud aku...."
"Iya, sih. Tapi, kenapa kamu nggak bilang-bilang dari dulu? Duh, kamu kan bisa comblangin aku sama Cesco. Kamu bisa jadi perantara yang bisa bikin aku dekat sama Cesco!"
Aku diam, lega sekaligus merasa tidak enak mendengar kalimat blak-blakan Sekar barusan.
"Duh, gimana sih kamu sebagai teman aku, Sekar?"
"Jadi kamu nggak marah?" tanyaku hati-hati.
"Ya, nggaklah," jawabnya. "Buat apa marah sama kamu? Malah, kamu dapat aku andalkan buat comblangin aku dengan Cesko. Mau kan bantuin aku?" pintanya kemudian.
Aku tersenyum. "Sip!"
Aneh, setelah mengucapkan kata 'sip' tadi hatiku terasa sakit!

***

Hari ini aku menemui Cesco seperti biasa. Bukan 'menemui' dalam arti sebenarnya, tapi karena 'kaharusan' jadwal kursus tambahan atau pelajaran ekstra yang diamanatkan padaku.
"Cesco, kamu tahu Sekar teman aku? Hm, sepertinya dia tertarik padamu," ujarku langsung seperti nembak.
Cesco agak tersentak kaget, tapi berusaha menenangkan dirinya dengan bertanya, lalu tersenyum manis. "Sekar tertarik pada aku? Suka atau jatuh cinta?"
"Maksud kamu?" Hei, justru aku yang bingung dibaliki pertanyaan ringan seperti itu.
Cesco mengulang pertanyaan yang sama. "Sekar suka aku atau dia jatuh cinta dengan aku?"
Gila nih Cesco, to the point banget!
Aku kan cuma membuat dia ge-er atau merasa tersanjung disukain sama muridnya. Bukannya malah aku yang diinterogasi tentang kebenaran pernyataanku.
"Yah, mungkin dia jatuh cinta sama kamu," jawabku akhirnya. Duh, semoga jawabanku tidak norak!
"Oke." Cuma segitu. Cesco tanggapnya cuma segitu dan menganggukkan kepala. "Trus, apa?"
Aku kikuk. "Kamu suka sama Sekar?"
"Iya, aku suka sama anak itu."
Degh! Dadaku rasanya sakit. Perlahan tapi pasti! Menjalar bagaikan api yang merambat dari hati ke kepalaku!
"Trus, apa yang akan kamu lakukan untuk menyatakan perasaanmu kepada Sekar?" tanyaku dengan benak baur. "Hm, maksudku, membalas pernyataan cintanya?"
"Nggak ada."
"Lho, kok nggak ada?! Kenapa?" tanyaku heran.
"Karena, aku suka Sekar sebagai murid aku yang paling cerdas dan bersemangat," jawab Cesco diplomatis. Tidak neko-neko. "Aku nggak kenal secara person dengan dia."
"Kenapa nggak dicoba? Sekar itu cewek yang manis, lho."
Cesco tampak menghela napas. "Kenapa memangnya, Rena?"
Aku terdiam. Tak mampu menjawab. "Aku...."
"Kenapa kamu menjodohkan aku dengan Sekar?" tanya Cesco lembut, seperti menuntut. Tapi dia masih tetap sesimpatik tadi dengan menyembulkan senyumnya.
Kali ini aku benar-benar mati kutu! Ya, untuk apa aku menjodoh-jodohkan Cesco dengan Sekar. Punya hak apa aku berani-beraninya menjadi 'mak comblang' kesasar begini? Bukankah jodoh diatur sama Tuhan? Ya, Tuhan! Maafkan segala kesalahanku!
"Rena...." Cesco menggugah keterdiaman aku dengan menyapa lembut.
Aku mengangkat muka setelah menunduk sejenak tadi.
"Aku jatuh cinta sama kamu, Rena!" ungkap Cesco.
Degh! Dadaku menggemuruh seolah hendak meledak! Aku menatap mata Cesco yang menggambarkan ketulusan. Dan tersenyum geli sebagai reaksi keterkejutanku.
"Candanya lucu ya, Cesco?" ujarku sebelum mengurai tawa pingkal.
"Non, aku serius!" tegas Cesco sambil memegang tanganku.
Aku terkesima saat tangannya menangkup tanganku di atas meja. Rasanya aku ingin mati dalam tersenyum saat ini juga!
"Mata kamu indah," kata Cesco sungguh-sungguh. "Dan kamu, baik. Supel. Aku suka kamu!"
Aku masih tertawa. Sekarang aku benar-benar tertawa jika mengingat lelucon Sekar, yang pernah mengatakan padaku kalau Italiano itu sangat romantis dan gentle. Hei, menurutku itu sangat gombal habis!
Dahi Cesco mengernyit. "Rena kenapa tertawa?"
"Non, mi scusi. Aku cuma ingat lelucon Sekar."
"Lelucon apa?"
"Tentang betapa romantisnya Italiano."
Cesco tersenyum, menatapku penuh arti. Dan dengan gerakan lambat, dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lembut mencium bibirku.
Oh, my God!
This is my first kiss!
Aku mengejang. Tubuhku menggigil.
Tawaku menyurut dalam keterpanaan. Entah perasaan apa yang aku rasakan! Semuanya membaur tidak menentu! Antara ingin tersenyum dan menangis! Aku bahagia! Sangat bahagia!
Monas... I'm in love!
Tapi aku terhenyak untuk sesaat. Samar dalam benakku muncul wajah Sekar yang menyeringai menakutkan! Betapa baranya dia dalam amarah yang membakarnya!
Dan aku tidak dapat mengatakan apa-apa lagi kecuali berlari sambil menangis bingung, keluar dari ruang perpustakaan!

***

CHAPTER 8:
Aku Cinta Kamu, Rena!

Why me?!
Kenapa aku yang harus menghadapi masalah gila ini?!
Sahabatku yang sangat meyukai Cesco! Tapi, Cesco malah menyukaiku sebelum aku melakukan apa-apa untuk nyomblangin Sekar dengannya. Aku menceritakan hal ini pada Nathan. Aku yakin Nathan pasti berusaha mencarikan aku jalan keluar! Aku tahu aku bisa mengandalkannya!
"Aku harus gimana dong, Nat?" tanyaku cemas sama Nathan
"Kamu suka nggak sama Cesco?"
Aku terdiam sesaat. Dan hanya mengangkat bahu.
"Gimana? Kamu suka apa nggak?" desak Nathan.
"Nggak tahu, Nat!"
"Gimana nggak tahu?!" Nathan berkacak pinggang. Sok tua. "Hati kamu bilang suka atau nggak, sih?"
Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Nathan, aku bingung!"
"Kenapa mesti bingung? Kamu tinggal bilang ya aja ke Cesco kalau kamu memang suka dia. Dan jelasin ke Sekar kalau sebenarnya yang Cesco cinta itu kamu. Bukan dia!" jelas Nathan menyolusi.
"APA?!" Tiba-tiba saja Sekar datang! Dan dia sudah mendengar semua yang Nathan katakan di balik bingkai pintu.
"Sekar?!" Aku dan Nathan terperanjat bersama.
"Apa kamu bilang, Nat?! Cesco cinta Rena?! Apa maksudnya?!" Sekar menuntut. Wajahnya memerah padam.
Nathan menyuruh Sekar duduk, dan menjelaskan dengan ulang apa yang aku curhatkan tadi padanya. Dia tampak berusaha menenangkan Sekar yang mulai menitikkan airmata. Setelah Nathan menjelaskan panjang-lebar, airmata Sekar bergulir tanpa dapat dibendungnya lagi. Dia hanya sesekali melirikku dengan perasaan benci! Duh, aku jadi serba salah!
"Sekar, maafkan aku. Bukan maksud aku...." Aku mulai terisak, merasa bersalah meskipun sama sekali tidak pernah bermaksud menyakiti hatinya. Sungguh, kali ini aku tidak mau dianggap 'pagar makan tanaman'.
"Aku nggak mau denger satu kata pun keluar dari mulut kamu, Rena!" damprat Sekar, berdiri dan menunjuk aku dengan marah yang membuncah. "Temen makan sahabat sendiri! Aku minta bantuan dan dukungan kamu sebagai sahabat, biar aku dapat mewujudkan obsesi aku. Biar aku nggak asal ngomong doang untuk dapetin bule! Tapi, kamu malah ngambil cowok yang aku suka! Padahal, kamu tahu seberapa besar aku ngarepin Si Cesco! Kamu memang BERENGSEK, Rena! Dari dulu aku nganggep kamu sebagai saudara sendiri, selalu berusaha jadi sahabat yang baik, tapi apa yang aku dapet dari kamu?! Kamu nggak pernah ngertiin perasaan aku! Percuma temenan puluhan tahun seperti ikrar kita dulu! Semuanya hancur! Karena kita memang nggak pernah cocok!" lanjut Sekar setengah berteriak menjurus kasar.
Nathan berlari mengejar Sekar, dan meninggalkan aku yang terisak sesal sendiri! Aku seperti kesetrum listrik jutaan volt hingga menjadi abu! Bagaimana pertemanan antara aku dan Sekar selama belasan tahun dapat hancur hanya dalam sepenggal hari?!
Sekali lagi, aku cuma bisa duduk diam, dan menangisi makian Sekar yang jauh lebih menyakitkan dari apa pun!

***

Sudah dua minggu setelah kejadian itu, aku tidak pernah lagi sebangku dengan Sekar. Persahabatanku dengan Nathan juga sepertinya merenggang sejak pertengkaran dengan Sekar tempo hari itu. Nathan lebih memilih untuk menemani Sekar yang terpuruk karena Cesco - dan aku memaklumi karena sadar gadis itu lebih membutuhkan perhatian dan hiburan. Aku sendiri sudah berusaha untuk meminta maaf pada Sekar. Tapi Sekar belum dapat memaafkan aku. Dan dia menampikku dengan bilang:
"Sori. Aku nggak butuh belas kasihan kamu!" ketusnya dengan tatapan mata menggurat kepedihan.
Ya, Tuhan! Maafkan atas kesalahanku! Apa mencintai dan dicintai seseorang adalah salah?!
Lalu, sejak saat itu pula aku memutuskan untuk menghindari kenangan yang manis dan pahit itu bersamaan. Aku sudah tidak pernah datang ke tempat kursus! Aku juga menolak semua hubungan dengan Cesco jika dia mengontak HP-ku — walaupun aku sadar dia tidak ada sangkut pautnya dengan lantaknya hubunganku dengan Sekar. Dia hanya orang luar yang tidak mengetahui apa yang terjadi? Toh dia tidak salah jika mencintaiku. Dan toh dia juga tidak bersalah jika tidak mencintai Sekar? Bukankah Sekar hanya bertepuk sebelah tangan?

***

CHAPTER 9:
Jangan Pergi, Cinta!

"Rena ada teman kamu, tuh," kata Bunda, menggugahku yang lagi termenung di muka jendela kamarku.
"Siapa?"
"Nggak tahu," geleng Bunda. "Udah sana temuin aja."
Aku berjalan malas ke ruang tamu, dan tersentak seperti melihat hantu. Ada Cesco di hadapanku. Sedang duduk di sofa dengan wajah menekuk.
Cesco spontan berdiri dari duduknya di sofa. "Rena dengar aku...." serunya seraya menggapaikan tangannya.
Aku tatap tajam matanya. "Gara-gara kamu aku kehilangan dua sahabat terbaikku!" sesalku, menumpahkan perasaanku pada Cesco yang kebingungan.
"Rena...."
"Udahlah, Cesco." Aku mengibaskan tanganku. "Tinggalin aku. Mulanya, aku berpikir kamu beda dengan Ayahku. Aku pikir kamu beda dengan Ryan... ta-tapi kalian semua cowok berengsek yang hanya bisa membuatku sakit hati. Membuatku menangis!"
Bunda datang menghampiri kami, memelukku, dan dengan lembut menyuruh Cesco pulang dulu untuk sementara waktu karena keadaanku yang masih labil.

***

Aku menangis di sofa, memandangi rinai hujan dari balik jendela yang turun rintik-rintik di luar sana. Kenapa nasibku buruk banget?! keluhku dalam hati. Ada Ayah yang tidak bertanggung jawab! Ada Ryan yang selingkuh! Sekarang, aku tersandung masalah Cesco, yang pada akhirnya melantakkan hubunganku dengan Sekar.
Tapi setiap mengingat kejadian dengan Cesco dua hari yang lalu, saat aku gebah dia dari rumah, aku jadi sedih banget. Aku merasa bersalah pada cowok Italia itu. Padahal, sesungguhnya dia tidak pernah berbuat salah apa-apa padaku. Dia hanya mengungkapkan perasaannya saja. Bukankah hal yang dilakukannya adalah sebuah kejujuran pada isi hati sendiri? Bukankah cinta adalah anugerah yang tak boleh ditampik atas nama apa pun juga? Ups, jiwaku serasa melayang-layang. Sakit jika mengingat telah menghancurkan impian Sekar. Tapi bahagia bila membayangkan ciuman pertama dalam hidupku dari seorang Cesko....
Tangisku kusudahi begitu mendengar bunyi bel pintu yang berbunyi memekakkan. Kusaput lekas airmata yang masih menggantung di pelupuk mata dan pipiku. Aku mengais sandal di bawah sofa, dan berjalan membuka pintu.
"Selamat sore. Permisi, Mbak. Ada kiriman bunga. Silakan tanda tangan di sini," ujar seorang berseragam sebuah toko bunga begitu aku mementang daun pintu.
Aku menandatangani nota kiriman rangkaian mawar merah yang indah itu. Membaca kartunya:

'Ti amo sempre mia amore. Peluk dan cium xoxo'.
Francesco Levi

Aku tersenyum setelah membacanya. Menutup kembali daun pintu rumah setelah karyawan toko bunga itu menirus dari hadapanku. Lima detik kemudian ada dering telepon rumahku berbunyi. Aku letakkan rangkaian bunga mawar pemberian Cesco ke atas meja tamu dengan sikap hati-hati.
Aku angkat gagang telepon dengan gerak malas. "Halo...."
"Rena... denger! Kenapa HP kamu dimatikan?! Cesco mau balik ke Italia, dia udah di bandara sekarang! Pesawatnyatake-off satu jam lagi, lho! Kamu nggak mau seumur hidup nyesel, kan? Cepetan datang ke Bandara sekarang! Aku, Nathan, dan Cesco udah tunggu di sini!"
"Sekar...?!"
"Cepetan tutup teleponnya!" suara cewek di seberang sana memerintah dengan suara tersengal. "Kebut aja ke bandara. Naik taksi aja biar cepet!"
Klik!
Aku langsung berlari keluar rumah setelah mengambil dompet di dalam kamarku. Aku mencegat taksi setelah berteriak ke Bunda untuk keluar mendadak. Aku lihat Bunda keluar terburu-buru dengan celemek dan sisa busa sabun yang masih menempel di sekujur tangannya — rutinitas petang yang beliau lakukan sepulang dari kantor. Dan kulihat beliau hanya geleng-geleng kepala saat aku sudan berada di dalam taksi.
Ya, Tuhan!
Tiba-tiba penyesalan menyergapku, dan kali ini jauh lebih menyakitkan ketimbang makian Sekar tempo hari. Airmataku menitik. Aku tidak dapat membayangkan kehilangan orang yang aku cintai!
Sepanjang perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, aku mengingat semua hal yang pernah aku lakukan bareng Cesco:
Kita pernah makan ice cream sambil jitak-jitakan di kantin tempat kursus, cekikikan setelah menguraikan cerita lucu masing-masing sembari gelitikan, dan banyak kenangan lainnya yang tak dapat aku lupakan begitu saja. Tapi aku akan terus mengenang sepanjang hidupku ciuman yang telah dia berikan saat dia nembak aku! Itulah kenangan terindah sepanjang perjalanan hidupku!
Cesco telah memberi makna pada hari-hariku yang gersang. Dia memupuskan semua kisah traumatikku tentang cowok bule berengsek yang pernah menghancurkan hatiku! Dia pula yang telah memberi warna indah cinta dalam hari-hariku nan panjang dan melelahkan ini. Dan dia pulalah yang telah menghancurkan dinding baja, yang aku bangun dan dirikan di hatiku! Menggantikannya dengan segebung cinta tulus yang kutampik dengan pongah!

***

CHAPTER 10:
Happy Ending

Sampai di bandara, tubuhku serasa melayang-layang.
Aku datang terlambat!
Dan pesawat yang jurusan Italia sudah berangkat limabelas menit yang lalu!
Tangisku meledak. Aku lunglai dengan mata yang mengabur oleh airmata, meninggalkan announcer di pusat informasi Keberangkatan Luar Negeri. Aku seolah anak kecil yang tersesat. Aku berjalan tertatih-tatih tak mampu membendung airmata yang membanjiri wajahku. Aku sedikit limbung tepat ketika merasakan seseorang menahan badanku.
"Ces-Cesco!" jeritku dengan suara serak.
"Kamu lama sekali datangnya, Rena!"
"Kamu nggak jadi pergi?!"
"Cintamu membatalkan keberangkatanku, Rena!" bisiknya dengan suara yang sangat lembut. "Aku nggak mau kehilangan kesempatan yang, mungkin datangnya hanya sekali seumur hidup ini, Rena! Aku mencintaimu, dan aku nggak...."
Aku memeluknya, dan jujur mengatakan padanya bahwa aku sangat menyayangi serta mencintainya!
"Maafkan aku, Cesco," bisikku. "Selama ini aku nggak pernah jujur dengan isi hatiku!"
Cesco membelai-belai rambutku yang lepek oleh airmata. Dipereratnya pelukannya di tubuhku.
"Woi... ini bandara, Guys!" teriak seseorang yang sudah kukaribi suaranya sejak lama. "Jangan malu-maluin gitu, dong!"
Aku berbalik, Cesco juga. Di sana ada senyum Nathan dan Sekar mengembang lebar lalu dibarengi tawa mereka yang riuh. Beberapa calon penumpang tersita melihat kegaduhan kami.
"Lho, kalian...?" Aku mengernyitkan dahi. Heran melihat mereka bergandengan tangan dengan mesra.
Nathan sudah berdiri di hadapanku. "Kenalin, Rena. Ini cewek aku, Sekar Milana," tuturnya tengil.
"Hah...." Saya ternganga tidak percaya.
Nathan dan Sekar jadian?!
Ternyata banyak yang sudah terjadi belakangan ini yang tidak aku ketahui secara persis. Selama ini, aku terlampau rapuh diombang-ambingkan oleh traumatik masa lalu, yang membuatku terpuruk ke dalam kesedihan yang tidak beralasan. Tentang Sekar yang marah kepadaku karena merebut Cesco darinya. Tentang Ayahku yang berengsek. Tentang Ryan yang selingkuh!
Dan rupanya itu adalah racun yang selamanya tidak akan dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Tanpa sepengetahuanku, Cesco yang mengetahui praharaku dengan Sekar, pada saat itu juga mendatangi Sekar dan mengisahkan duduk-persoalannya dengan gamblang. Jujur dia mengatakan bahwa dia, Cesco, memang nembak aku, Rena. Dan hanya menganggap seorang Sekar Milana sebagai seorang adik dan murid yang dia sayangi. Akhirnya, Sekar dengan berbesar hati mau menerima hal itu sebagai sebuah kenyataan meskipun pahit dan sakit pada awalnya. Bravountuk Sekar!
Dan mengenai jadiannya Nathan sama Sekar? Hm, tentu aku angkat bahu! Cinta itu kadang-kadang aneh. Yang benci jadi rindu. Yang rindu jadi benci! Entahlah. Tapi yang pasti, menurut mereka sih cinta mereka dapat tumbuh lantaran perhatian lebih dan khusus yang diberikan setiap hari. Take and gift, begitulah! Entahlah. Yang pasti setelah pertengkaranku dengan Sekar, Nathan yang sebenarnya ada hati sama Sekar memang setiap hari datang menghibur gadis itu. Pokoknya, setiap saat dia tulus memberikan perhatian dan kasih sayang yang besar pada Sekar sehingga cewek itu terenyuh pada akhirnya. Dan menerima cinta Nathan saat cowok itu nembak tidak lama kemudian!
Hm, aku bahagia! Sangat bahagia!
Rupanya cinta mengajarkan banyak hal pada kami untuk lebih jujur, terbuka, dan dewasa. Hei, bukankah cinta itu adalah anugerah yang tak boleh ditampik atas nama apa pun?! Bukankah yang namanya cinta itu tidak dapat dipaksakan dan datangnya melalui hati yang dipersembahkan Tuhan untuk manusia?
Aku mengerti sekarang, kenapa Ryan memilih cewek lain dan bukan aku! Kenapa Bunda memilih untuk melahirkan aku meski pada akhirnya nanti dia tahu bahwa aku tidak akan ber-Ayah!
Dan, kenapa Nathan pacaran sama Sekar?!
Itu yang membuatku berpikir, bahwa pengalaman-pengalaman cinta kita ini adalah l'insegnante atau guru dalam kehidupan kita!
Tapi, sudahlah!
Aku tidak ingin membahas lebih jauh karena saat ini aku ingin menikmati hidupku yang berwarna seindah pelangi. Dan, tebak! Aku rasa, aku akan bahagia selamanya dengan cowok yang saat ini memelukku!
"Ti amo, Cesco!"

Ps: Dedicated to mia amici e mia bella insegnante, Antonella!

SELESAI

BIODATA PENULIS

Tri Astuti Oktavianti, lahir di Jakarta pada tanggal 2 Oktober 1985. Alumnus Universitas Nasional Jakarta jurusan Hubungan Internasional ini, pernah meraih The Second Winner of Writing Italian Competition "L' Italia e il Mare" on 7th. International of Italian Language in The World yang diadakan oleh Departemen Luar Negeri Italia, dan menjadi orang Indonesia pertama yang dapat juara lomba ini dengan mengalahkan kontestan lain dari 90 negara pada tahun 2007. Penulis yang baru saja meraih titel S.Ip ini sangat mengagumi penulis teenlit Meg Cabot. Selain menulis, ia memiliki hobi browsing di internet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts with Thumbnails